Tampilkan postingan dengan label Mamah-Muda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mamah-Muda. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Agustus 2018

Agustus 12, 2018

Jangan Gunakan Cara Kencan Ini Bunda !


Setiap pasangan kekasih pastinya memiliki cara dan gaya kencan bunda dalam menunjukkan perasaan masing-masing. Apalagi dengan kecanggihan teknologi di zaman sekarang, membuat orang-orang lebih mudah mengekspresikan dirinya.

Tapi terkadang, gaya kencan yang dilakukan cenderung berlebihan bahkan bisa dikategorikan sebagai tindakan kurang pantas. Alhasil, banyak orang di sekitar yang melihatnya menjadi risih.

Senin, 06 November 2017

November 06, 2017

Langkah yang Harus Dilakukan Saat Anak Lihat Hubungan Seks Kamu dengan Suami

Seks Atiqah Hasiholan dan Rio Dewanto
Seks Atiqah Hasiholan dan Rio Dewanto
Hai Bunda - Segala hal bisa terjadi di luar dugaan. Misalnya aja ketika sedang bercinta, kepergok oleh anak. Hal inilah yang dialami aktris Atiqah Hasiholan dan suaminya Rio Dewanto. Nah, Bunda pernah berada di situasi sama kayak Atiqah Hasiholan?

"Waktu itu saya sedang bercinta dan tiba-tiba anak kami masuk. Mereka membuka pintu dan kami terkejut. Kami cuma bilang 'Hei, ada apa? Apa yang kamu butuhkan?'. Ayah dan ibu perlu untuk tidur siang sejenak," kata Atiqah Hasiholan.

Kata Atiqah, saat itu kedua anaknya kelihatan nggak terlalu ngeh dengan apa yang terjadi. Tapi, untuk Aqtiqah dan Rio Dewanto pastinya itu jadi situasi yang awkward dan cukup 'mengerikan'. Nah, bicara soal ketahuan bercinta oleh anak, ini memang bisa saja terjadi, Bun. Terutama kalau anak masih tidur sekamar sama kita.

Maka dari itu, psikolog anak dan remaja dari RaQQi Human Development and Learning Centre, Ratih Zulhaqqi, sebisa mungkin orang tua mengatur aktivitas bercintanya. Kalau memang kamar sudah terpisah sama anak, usahakan kunci kamar ketika kita sedang bercinta. Atau, ketika anak masih tidur sekamar, atur waktu misalnya di malam hari ketika anak tidur dan kalau perlu, lakukan aktivitas itu di kamar lain, Bun.

"Untuk balita, bisa aja mereka belum ngeh apa yang dilakukan orang tuanya. Tapi ketika mereka melihat, itu bisa tersimpan di memori anak. Makanya, kita perlu hati-hati banget tuh. Cari waktu yang pas juga untuk bercinta. Kalau pas anak lagi ada di rumah, siang gitu, ya baiknya sih jangan ya, he-he-he," tutur Ratih waktu ngobrol sama HaiBunda.

Dikutip dari Men's Health, psikolog anak di Minnesota, Hal Pickett bilang kalau sampai anak bertanya apa yang ayah dan bundanya lakukan, kita bisa memberi tahu mereka kalau ayah lagi menggelitiki bunda, melakukan olahraga baru, atau mencari harta karun di sela-sela tubuh. Gimana kalau anak melihat ayah dan bundanya nggak mengenakan pakaian?

"Jika secara visual anak bisa melihat bagian tertentu tubuh atau mereka berpikir mengapa orang tuanya nggak berpakaian, penting untuk memberi info sesuai umur anak. Katakan saja selesai saling menggelitiki, ayah atau bundanya perlu mandi dan itu sebabnya nggak mengenakan pakaian," ujar Pickett.

Kalau anak udah lebih besar, Bun, mereka juga bisa merasa malu lantas langsung pergi ketika memergoki orang tuanya bercinta. Dalam situasi kayak gini, esok harinya Pickett menyarankan ajaklah anak ngobrol dan kasih penjelasan. Misalnya, hubungan seks wajar dilakukan oleh dua orang dewasa yang saling mencintai dan sudah menikah. Di momen seperti ini, orang tua dan anak juga bisa berdiskusi soal seks lho.

Selasa, 31 Oktober 2017

Oktober 31, 2017

Soal Naluri Keibuan

Sherlyn Male Indonesia
Photo by Male Indonesia
Hai Bunda - Sesuai dengan judul, apalagi yang dicurhatin perempuan yang baru menikah kecuali curhatan naluri keibuannya. Yap.. kehamilan. Pasalnya, setiap bertemu orang pasti yang ditanyakan "dah isi belum?" (what the meaning of 'isi' ? Isi nasi? hehe) ya itulah, dah ada dede belum dalam perut ibu?

Hmm.. Secara kasat mata satu dua orang bertanya seperti itu ga apa-apa. Kalo setiap ketemu orang, cape mikirnya. Lho koq dipikir. Iya, apa ga ada pertanyaan lain selain itu? Secara tidak sadar pertanyaan mereka akan terbawa terus keseharian. Yang ada malah timbul rasa iri melihat perempuan lain yang lagi hamil, melihat ibu lain yang menggendong anaknya. Kapan ya saya punya momongan? Yang berujung jadi kesedihan.

Bukan tidak mungkin pertanyaan-pertanyaan dari orang-orang sekeliling membuat penat dua orang insan yang baru berumah tangga. Manalagi beberapa di antara mereka dengan santainya tanpa merasa bersalah (bahkan aku bilang secara tidak langsung melupakan satu hal, apa itu?) "lembur donk.. Biar hasil" atau yang lain bilang "minum ini.. Minum itu.. Biar...."
Whatever...

Aku menghela napas. Manalagi membaca tulisan bang achoer di MyQ. Menunggu bulan. Yup! Bagi pasangan suami istri yang ingin punya momongan, menatap kalender bukan cuma nunggu tanggal gajian. Tapi nunggu juga tanggal si tamu datang ga ke istrinya. Jika dia datang, suami akan bilang, nunggu bulan berikutnya. Jika telat, dag-dig-dug hati keduanya. Cuma telat sesaat ataukah...?

Pelipur laranya, saat seorang ustadz memberikan tausiyahnya untuk menyibak kegalauan hati sepasang insan itu. Apa kata beliau? "anak itu bukan bikinan istri. Anak bukan buatan suami. Bukan bikinan suami istri. Anak adalah Allah yang memproduksi.

Lingkungan seakan mendramatisir kalo belum punya anak orang tuanya ga bisa bikin. Lha emangnya si ibu yang bikin? Ibu mah bisanya bikin masakan. Kalo si ibu yang bikin, request lah si ayah. Kata si ibu terserah yang bikin.

Si ibu nge fans sama Tao Ming Tse (bener kaga ya nulisnya) dibikin kek gitu. Atau demen banget sama Aishwarya Ray, dibikin kek gitu. Atau kalo si ayah yang bikin pengennya botok (apaan sih) dibikinlah kek bla..bla..bla..

Pertanyaannya Apa bisa? Kalo bapa or ibunya yang bikin atau kedua-duanya yang bikin bukan tidak mungkin di dunia ini semua orang pengen bikinnya yang cantik dan ganteng. Lha si ibu bikin kue aja kadang-kadang bantet. Masak aja kadang-kadang keasinan. Apa bisa kalo bikin anak?

Nah itulah.. Anak bukan ciptaan or bikinan emak bapaknya. Anak ciptaan Allah, Allah yang bikin. Lupa bagaimana penciptaan manusia? Lupa bagaimana penciptaan nabi Adam As? Allah ciptakan manusia dari tanah.

Kemudian ditiupkan ruh ke dalamnya, dititipkan di rahim seorang perempuan. Allah lah yang Maha Berkehendak. Kehendaknya menciptakan seperti apa? Kehendaknya menciptakan untuk siapa dan kehendaknya pula kapan dititipkan.

Jadi, Allah Maha Tahu waktu yang tepat untuk pasangan menerima amanah dari Allah itu. Sering, ini yang kita lupakan. Naudzubillah...

Seperti ada teman si abang yang bilang "Santai aja. Nti juga waktunya dikasih ma Allah mah bakalan dikasih. Sekarang mah disuruh pacaran dulu. Saya aja 3 tahun baru ada"

Kata-kata seperti itu jarang aku temui keluar dari orang-orang terdekat. Yang ada malah untuk guyonan. Waah.. Suaminya ga greget nih. Bla..bla..bla..

Robb.. Terima kasih atas bimbingan Engkau hingga menguatkan aku dan suamiku. Terima kasih karena masih ada di sekelilingku orang yang tidak kufur akan nikmat-Mu lantas mengesampingkan Engkau dengan kembali ke akal mereka.

Robb.. Kami percaya bahwa Engkau Maha Tahu kapan saat indah Engkau percaya mengamanahkan buah hati kepada kami seperti kami percaya saat indah itu tiba saat kami menunaikan sunnah Rosul-Mu yang penuh perjuangan itu. Seperti saat ini Ya Allah..

Perjuangan tak terhenti, do'a terjalani, dan keyakinan tumbuh di dasar hati kami. Kami serahkan urusan ini pada-Mu. Kami hanyalah makhluk-Mu yang lemah. Yang hanya bisa ikhtiar & do'a namun hasilnya ada pada-Mu. Robb.. Kuatkan, sabarkan dan ikhlaskan kami atas segala ketentuan-Mu.

Senin, 30 Oktober 2017

Oktober 30, 2017

Pentingnya Zat Besi Untuk Si Buah Hati

Pentingnya Zat Besi Untuk Anak - Hai Bunda Ku
Pentingnya Zat Besi Untuk Anak
Hai Bunda - Zat besi jadi salah satu mikronutiren yang penting untuk tumbuh dan kembang anak. Sayangnya, kecukupan zat besi nggak jarang terabaikan ketika orang tua memberi asupan makanan untuk si kecil.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebutkan kebutuhan zat besi bayi usia 6-12 bulan adalah 11 mg per hari, sedangkan anak umur 1-3 tahun (batita) butuh zat besi lebih sedikit, yaitu 7 mg per hari. Nah, Bun, ASI cuma memenuhi 0,3 mg zat besi per hari. Sehingga, sisa kebutuhan zat besi si kecil perlu dipenuhi lewat asupan makanan sehari-hari

"Zat besi penting untuk pembentukan sel, termasuk pembentukan sel darah merah. Sehingga, sirkulasi darah lebih maksimal. Sel darah merah ini kan membawa oksigen ke seluruh tubuh, termasuk ke otak," kata dr Caessar Pronocitro MSc, SpA ditemui usai Cerita Bunda yang digelar HaiBundaKu bersama Morinaga Platinum di Harlequin Bistro, Kemang, Jakarta Selatan.

Nah, dalam jangka panjang, anak yang kekurangan zat besi IQ-nya 12,9 poin lebih rendah di bawah anak yang nggak kekurangan zat besi. Saat ini terjadi, apa efeknya, Dok? Kata dr Caessar, kondisi ini bakal berefek ke kecerdasan dan konsentrasi anak. Nggak cuma itu, anak juga jadi gampang lelah. Alhasil, aktivitasnya kurang karena dia nggak seaktif anak lain.

"Efeknya lebih luas karena zat besi dibutuhkan untuk metabolisme tubuh kita," tambah dokter yang berpraktik di RSPI Bintaro dan RS Sari Asih Ciputat ini. dr Caessar bilang, daging jadi sumber makanan yang kaya akan zat besi. Tapi, kalau ada kendala seperti finansial, memberi hati baik itu hati ayam atau sapi juga nggak masalah kok, Bun.

Nah, menurut IDAI, banyak banget bahan makanan di sekitar kita yang kaya akan zat besi. Sayuran berdaun hijau seperti selada air, kangkung, brokoli, bayam hijau, buncis dan kacang-kacangan kaya akan zat besi lho. Selain itu, bahan makanan hewani seperti daging merah dan kuning telur juga kaya zat besi dan lebih mudah diserap oleh tubuh dibandingkan sumber nabati.

"Dalam proses pengolahan bahan makanan, sangat perlu diperhatikan pengolahan yang baik dan benar sehingga kandungan zat makanan misalkan zat besi tidak berkurang dari bahan makanan tersebut. Usahakan anak banyak mengonsumsi makanan yang kaya zat besi untuk mencegah anemia defisiensi besi," tulis IDAI dalam situs resminya.

   

About


Hai Bundaku adalah portal online yang memberikan tips kehamilan, menyusui, bayi, parenting, motherhood sekaligus tempat Bunda berbagi pengalaman.